Rotten Tomatoes adalah platform ulasan film angkaraja yang terkenal. Film dengan rating nol persen dianggap sebagai karya terburuk. Tapi, apakah semua film ini memang seburuk yang dikatakan kritikus?
Rating nol persen di Rotten Tomatoes menunjukkan kekecewaan kritikus. Namun, ulasan dari penonton sering kali berbeda. Bagaimana mungkin film yang dinilai buruk oleh ahli disukai oleh publik? Mari kita cari tahu faktor-faktor di balik perbedaan ini.
Memahami Sistem Rating Rotten Tomatoes
Untuk memahami film dengan rating ekstrem di Rotten Tomatoes, penting tahu cara kerja sistem rating film ini. Di balik angka-angka seperti tomatometer atau audience score, ada proses agregasi ulasan yang ketat.
Bagaimana Rotten Tomatoes Menghitung Persentase
Persentase tomatometer dihitung dari ulasan kritikus profesional. Ini adalah mekanismenya:
- Setiap ulasan dikategorikan “segar” (positif) atau “busuk” (negatif)
- Persentase dihitung dari total ulasan “segar” dibagi total seluruh ulasan
- Hanya ulasan dari sumber terverifikasi (majalah, situs kritik film) yang diakui sistem
Perbedaan Antara Skor Kritikus dan Penonton
Perbedaan utama terletak pada:
- Kritikus profesional menilai teknik, narasi, dan konteks industri
- Audience score mencerminkan kesan penonton biasa tanpa batasan kriteria teknis
Mengapa Film Bisa Mendapatkan Rating Nol Persen?
Rating 0% muncul saat:
- Kurangnya ulasan positif dari minimal 6 kritikus terverifikasi
- Kesalahan produksi yang merusak kesan kualitas
- Kesenjangan antara ekspektasi genre dan hasil akhir film
Perhitungan ini menjelaskan kenapa ada film terkenal yang mendapat skor rendah di sistem ini.
Film-Film Terkenal dengan Rating Nol Persen di Rotten Tomatoes
Berikut beberapa judul yang masuk kategori film rating terendah sepanjang masa. Beberapa film ini jadi topik hangat di kalangan penonton. Mereka menunjukkan kegagalan sinematik yang mengejutkan, tetapi juga memiliki cerita unik di balik kegagalan mereka.
- The Room (2003) – Dibuat Tommy Wiseau sebagai sutradara dan pemain, film ini menghabiskan $6 juta tetapi hanya meraup $2 juta di box office flop. Kritikus menyoroti alur yang tak masuk akal dan akting yang aneh, menjadikannya film kontroversial. Meski dihujat, The Room justru jadi ikon budaya alternative yang ditonton berulang kali di teater dengan komentar jajal.
- Battlefield Earth (2000) – Dibintangi John Travolta, film ini menghabiskan $40 juta tetapi box office flop hanya $23 juta. Dikritik karena penggarapan CGI kuno dan dialog yang kaku, Battlefield Earth sering disebut film terburuk sepanjang masa. Kontroversi tambahan: pembuat film mengklaim keuntungan lewat penjualan novel aslinya.
- The Wicker Man (2006) – Remake film horor 1973 ini menghabiskan $25 juta tetapi gagal total di box office flop. Kritikus menilai kegagalan sinematik dalam penulisan naskah dan penempatan adegan. Meski begitu, beberapa penonton menganggapnya “unik” dan jadi bahan diskusi panas.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa film rating terendah tak selalu mati total. Beberapa justru jadi fenomena yang terus dibicarakan, meski kritikus menolaknya mentah-mentah.
Film-Film dengan Rating Nol Persen di Rotten Tomatoes, Seburuk Itu?
Banyak film dengan rating 0% di Rotten Tomatoes jadi fenomena film cult. Kritikus dan penonton sering berbeda pendapat karena film sangat subjektif. Contohnya, *The Room* (2003) dianggap buruk oleh kritikus tapi menjadi ikon kultus karena ceritanya yang kocak dan penggemarnya yang setia.
Ketidaksesuaian Antara Kritikus dan Penonton
- Kritikus fokus pada struktur cerita atau teknis, sementara penonton lebih terpukau efek hiburan langsung.
- Film seperti *Manos: The Hands of Fear* (1969) dianggap cacat secara teknis, tapi justru dihargai sebagai karya eksperimental.
Film Kultus yang Gagal di Mata Kritikus
Film seperti *Donnie Darko* (2001) awalnya dinilai buruk, tapi kini dianggap karya visionary. Fenomena film cult menunjukkan bagaimana film yang “gagal” bisa menjadi legenda. Kritikus kadang melewatkan potensi jangka panjang film karena fokus pada tren saat rilis.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penilaian Film
Beberapa alasan mengapa rating 0% tak selalu akurat:
- Genre bias: Film genre eksperimental sering dihindari kritikus mainstream.
- Konteks sosial: Film yang mengkritik isu sensitif mungkin dipahami salah (film yang salah dipahami) saat rilis.
- Perubahan preferensi: Selera penonton berubah seiring waktu, sehingga film yang “gagal” mendapat ulang hayat kultus.
Perbedaan persepsi ini membuktikan: rating kritikus hanyalah satu sisi cerita. Film yang gagal di mata kritikus bisa jadi jembatan untuk diskusi artistik yang lebih dalam.
Kesimpulan
Nilai subjektif film sering jadi topik hangat. Rotten Tomatoes bisa memberi panduan, tapi tidak menggantikan selera pribadi. Memilih film lebih sering berdasarkan perasaan penonton, bukan hanya angka.
Jangan biarkan rating nol persen menghalangi kamu menonton film yang menarik. Sistem ulasan seperti Rotten Tomatoes bermanfaat, tapi jangan hanya tergantung padanya. Pertimbangkan rekomendasi dari berbagai sumber.
Ulaskan kritikus penting, tapi jangan lupa saran teman atau pengalaman pribadi. Pilihan menonton film sepenuhnya ada di tanganmu. Ingat, film yang buruk bagi sebagian orang bisa jadi favoritmu.
Jadi, tak perlu takut mencoba film dengan rating rendah. Yang penting, tontonlah apa yang menyenangkan untukmu. Film apa yang ingin kamu tonton hari ini, meski kritikus bilang “buruk”?
sumber artikel: www.theoxfordstore.com